Bacaan
Ekaristi: Flp. 4:10-19; Mzm. 112:1-2.5-6.8a.9; Luk. 16:9-15.
Saudara-saudari
yang terkasih,
Bacaan-bacaan
yang baru saja kita dengar menggambarkan sosok orang benar yang ditolong dan
dikuatkan oleh Tuhan, agar ia dapat melaksanakan perutusan yang dipercayakan
kepadanya. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Santo Paulus mengungkapkan
rasa syukur atas dukungan komunitas terhadap karya perutusannya; ia sadar bahwa
di tengah kekurangannya, Allah adalah satu-satunya kekayaannya, dan
penyelenggaraan ilahi dinyatakan melalui saudara-saudari yang menjadi sasaran
perutusannya.
Di sisi
lain Mazmur menyebut berbahagia orang-orang yang mencintai hukum Tuhan dan
perbuatannya selaras dengan iman mereka. Demikian pula dalam Bacaan Injil,
Yesus menekankan pentingnya pribadi yang jujur, yang mengabdi kepada Allah dan
menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupannya, serta tetap setia dalam segala
hal yang dipercayakan kepadanya, baik hal-hal besar maupun hal-hal kecil.
Hari ini,
saat kita berkumpul di Paysandú untuk merayakan Ekaristi — dengan sukacita
melihat begitu banyak anggota Gereja di Uruguay berhimpun di sekeliling meja
yang sama, bersama para peziarah dari negara-negara tetangga — Liturgi Sabda
mengajak kita untuk mengenang kehadiran begitu banyak orang beriman yang datang
ke wilayah Río de la Plata. Sejak masa-masa awal pewartaan Injil di benua ini,
mereka datang demi nama Tuhan untuk mewartakan sukacita besar yang telah mereka
alami sendiri saat berjumpa dengan Kristus. Seperti para malaikat yang
menampakkan diri kepada para gembala (bdk. Luk 2:10), mereka dengan penuh
sukacita membagikan Kabar Baik Injil, seraya mengungkapkan iman mereka melalui
karya amal kasih dan kerahiman.
Dalam
perayaan ini, kita juga ingin mengenang dan mengucap syukur kepada Allah atas
kehidupan serta pelayanan seorang putra tanah ini: Beato Jacinto Vera, Uskup
Montevideo. Ia memberikan kesaksian yang setia terhadap iman yang diwartakannya
melalui amal kasih yang berlimpah dan pengabdian penuh pada perutusan
apostolik. Ia menjalankan semangat pastoralnya secara luas, tanpa mempedulikan
pengorbanan apa pun. Sebagai contoh, ia sering bepergian dengan menunggang kuda
untuk merawat orang sakit, meskipun harus menempuh jarak yang jauh, menghadapi
bahaya di sepanjang perjalanan, serta cuaca yang tidak bersahabat. Sang “uskup
gaucho” ini telah menjelajahi seluruh pelosok Uruguay hingga tiga kali, membawa
iman dan harapan bagi penduduknya. Selama peristiwa bersejarah Pengepungan
Paysandú pada tahun 1864, Uskup Vera tinggal di Isla de la Caridad — yang
terletak di seberang kota yang terkepung — demi merawat para pengungsi dan
orang-orang yang terluka dari kedua belah pihak. Ia tetap berada di sana hingga
pengepungan berakhir, mendampingi umatnya serta memohon demi nama Allah agar
pihak-pihak yang bertikai — yang sejatinya bersaudara — dapat saling merangkul
dalam kasih persaudaraan.
Saudara-saudari
terkasih, hari ini giliran kita untuk melanjutkan warisan yang ditinggalkan
oleh para penabur Injil ini. Kita harus melakukannya dengan senantiasa
mengingat sabda Allah: dengan keadilan, kejujuran, dan kesetiaan, seraya
menyadari bahwa pesan yang kita wartakan bukan milik kita. Pesan itu adalah
harta yang telah kita terima dari Tuhan, yang kita bawa dalam bejana tanah liat
(bdk. 2Kor 4:7).
Tiga
simbol yang mencirikan wilayah ini dapat membantu kita merefleksikan khazanah
iman yang telah kita terima serta perutusan yang kini dipercayakan kepada kita.
Simbol pertama adalah jembatan; yang kedua adalah kebun palem; dan yang ketiga
adalah minuman mate.
Di kota
Paysandú ini terdapat Jembatan Internasional General Artigas, yang membentang
melintasi Sungai Uruguay dan menghubungkan dua negara tetangga. Tidaklah sulit
untuk membayangkan manfaat yang dihadirkan oleh sebuah jembatan: keterbukaan,
komunikasi, dan pertukaran. Itulah sebabnya menjadi pembangun jembatan menjadi
sangat penting! Inilah panggilan yang ditujukan kepada kita semua: membangun
jembatan, memperkuat ikatan, mempersatukan, berkomunikasi, dan berbagi sukacita
iman — seperti yang dilakukan oleh Beato Jacinto Vera — "baik atau tidak
baik waktunya" (2Tim 4:2).
Terlebih
lagi, sebuah jembatan memerlukan fondasi yang kokoh agar mampu bertahan bahkan
terhadap arus yang paling kuat sekalipun. Sebagaimana rumah yang dibangun di
atas batu akan tetap tegak di tengah badai, sementara rumah yang dibangun di
atas pasir berisiko runtuh (bdk. Mat 7:24-27), demikian pula sebuah jembatan
membutuhkan fondasi yang tepat untuk menahan kekuatan angin dan air. Setiap
kali kamu pergi ke tepi sungai dan melihat jembatan itu, ingatlah bahwa simbol
ini mewakili kita dan mengingatkan kita akan pentingnya pembinaan Kristiani
yang kokoh. Kita perlu dipersiapkan dengan baik untuk memberi
pertanggungjawaban iman kita kepada siapa pun yang bertanya (bdk. 1Ptr 3:15)
dan tidak membiarkan diri kita disesatkan oleh “berbagai ajaran asing” (Ibr 13:9).
Hanya dengan cara inilah kita dapat menjadi sarana persatuan dan ikatan kasih.
Simbol
kedua yang mencirikan dan memperindah tanah ini adalah kebun palem. Kitab
Mazmur menyatakan bahwa “orang benar akan bertunas seperti pohon kurma” (Mzm
92:12). Pohon ini mampu bertahan terhadap angin kencang, memiliki akar yang
dalam, tumbuh menjulang lurus ke langit demi mengejar cahaya, serta
menghasilkan buah yatay yang manis. Ini merupakan gambaran yang indah mengenai
asal-usul kita dan tujuan akhir panggilan hidup kita: berakar di dalam Kristus
— Sang Alfa dan Omega, Awal dan Akhir dari kehidupan kita — sehingga dengan
tetap bersatu dengan Dia, kita dapat menghasilkan buah yang baik (bdk. Yoh
15:5).
Pada saat
yang sama, kita melihat bahwa pohon palem di wilayah ini tidak berdiri sendiri,
melainkan tumbuh berkelompok; jumlahnya banyak, namun tidak ada yang berdiri
sendirian ataupun berjauhan. Demikian pula, Gereja merupakan komunitas
saudara-saudari yang menanamkan akar dan menimba dari sumber yang sama: sabda
Allah, sakramen-sakramen, doa, dan karya amal kasih. Bersama-sama, umat beriman
mengarahkan pandangan mereka untuk memuji Kristus — sang surya pagi dari tempat
yang tinggi, yang cahayanya menuntun langkah umat manusia ke jalan damai
sejahtera (bdk. Luk 1:78-79).
Akhirnya,
mari kita renungkan sebuah simbol yang dapat ditemukan di setiap rumah di
negeri ini, di setiap tempat belajar dan bekerja, serta dalam setiap pertemuan
antarsahabat. Yang saya maksud adalah mate, minuman yang sangat khas dari
Amerika Selatan, yang makna mendalamnya tentu lebih baik kamu yang jelaskan
ketimbang saya. Pasti banyak di antaramu yang telah menikmati mate dalam
perjalanan menuju perayaan hari ini, dan akan menikmatinya lagi dalam
perjalanan pulang nanti. Mate bahkan telah sampai ke Roma!
Mate
merupakan lambang keakraban, persahabatan, dan perjumpaan. Ia mengajarkan kita
untuk berbagi dan bersama-sama, serta mempererat ikatan yang mempersatukan kita
sebagai saudara. Mate menjadi tanda penerimaan, pemaduan, dan nilai-nilai yang
dianut bersama. "Minum mate" adalah sebuah ritual yang kaya akan
simbolisme; di dalamnya, dialog terjalin tanpa perlu kata-kata, dan setiap
rinciannya memiliki makna tersendiri. Saya juga teringat pada saat-saat
seseorang menikmati mate seorang diri, dalam keheningan dan doa. Dalam
momen-momen kesendirian tersebut, betapa sering kamu menyerahkan segala kekhawatiran,
kebutuhan, serta hasrat dan kerinduan terdalammu kepada Allah!
Saudara-saudari
terkasih, kita perlu merefleksikan simbol-simbol yang kita miliki bersama ini —
simbol yang memberi kita jati diri dan rasa memiliki, yang menuturkan kisah
tentang asal-usul kita, sekaligus mengarahkan pandangan kita ke masa depan.
Iman pun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Uruguay sejak masa-masa
awal, dan iman ini harus diteruskan kepada generasi mendatang dengan keberanian
yang kreatif.
Dalam
Bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita akan pentingnya bersikap setia
terhadap karunia-karunia yang telah kita terima: “Siapa yang setia dalam hal
kecil, setia juga dalam hal besar” (Luk 16:10). Banyak orang, seperti Uskup
Jacinto Vera, menghayati kata-kata ini. Dengan setia menjalankan panggilan yang
telah mereka terima, mereka menaburkan benih Injil di dalam hati rakyat
Uruguay. Benih-benih itu tetap hidup di tengah komunitas, namun penting untuk
terus menyediakan kondisi yang diperlukan agar benih tersebut dapat tumbuh dan
mencapai potensi sepenuhnya. Hal ini mencakup upaya berkelanjutan untuk
mendidik anak-anak dan kaum muda dalam iman, mendampingi keluarga-keluarga,
mendukung para lansia, serta melaksanakan karya amal kasih.
Saudara-saudari
terkasih, saya mendorongmu untuk meneruskan perutusan pewartaan Injil dengan
penuh semangat. Jadilah jembatan, agar banyak orang dapat berjumpa Yesus.
Jadilah komunitas persaudaraan yang berkumpul bersama dan saling berbagi
kehidupan, rencana, impian, serta harapan — terutama dengan orang-orang yang
paling membutuhkan. Jadilah komunitas doa yang senantiasa menjalin dialog
dengan Tuhan, layaknya seorang sahabat berbicara kepada sahabatnya (bdk. Yoh
15:15). Kristus mengandalkan kamu semua! Kristus mengandalkanmu!
Semoga
Bunda surgawi kita, Bunda dari Tiga Puluh Tiga, melindungimu dalam perjalanan
hidupmu dan senantiasa menuntunmu untuk berjumpa Yesus, Putranya.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 8 November 2026)


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.