Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI PARQUE PARÍS LONDRES (PAYSANDÚ, URUGUAY) 7 November 2026

Bacaan Ekaristi: Flp. 4:10-19; Mzm. 112:1-2.5-6.8a.9; Luk. 16:9-15.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Bacaan-bacaan yang baru saja kita dengar menggambarkan sosok orang benar yang ditolong dan dikuatkan oleh Tuhan, agar ia dapat melaksanakan perutusan yang dipercayakan kepadanya. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Santo Paulus mengungkapkan rasa syukur atas dukungan komunitas terhadap karya perutusannya; ia sadar bahwa di tengah kekurangannya, Allah adalah satu-satunya kekayaannya, dan penyelenggaraan ilahi dinyatakan melalui saudara-saudari yang menjadi sasaran perutusannya.

 

Di sisi lain Mazmur menyebut berbahagia orang-orang yang mencintai hukum Tuhan dan perbuatannya selaras dengan iman mereka. Demikian pula dalam Bacaan Injil, Yesus menekankan pentingnya pribadi yang jujur, yang mengabdi kepada Allah dan menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupannya, serta tetap setia dalam segala hal yang dipercayakan kepadanya, baik hal-hal besar maupun hal-hal kecil.

 

Hari ini, saat kita berkumpul di Paysandú untuk merayakan Ekaristi — dengan sukacita melihat begitu banyak anggota Gereja di Uruguay berhimpun di sekeliling meja yang sama, bersama para peziarah dari negara-negara tetangga — Liturgi Sabda mengajak kita untuk mengenang kehadiran begitu banyak orang beriman yang datang ke wilayah Río de la Plata. Sejak masa-masa awal pewartaan Injil di benua ini, mereka datang demi nama Tuhan untuk mewartakan sukacita besar yang telah mereka alami sendiri saat berjumpa dengan Kristus. Seperti para malaikat yang menampakkan diri kepada para gembala (bdk. Luk 2:10), mereka dengan penuh sukacita membagikan Kabar Baik Injil, seraya mengungkapkan iman mereka melalui karya amal kasih dan kerahiman.

 

Dalam perayaan ini, kita juga ingin mengenang dan mengucap syukur kepada Allah atas kehidupan serta pelayanan seorang putra tanah ini: Beato Jacinto Vera, Uskup Montevideo. Ia memberikan kesaksian yang setia terhadap iman yang diwartakannya melalui amal kasih yang berlimpah dan pengabdian penuh pada perutusan apostolik. Ia menjalankan semangat pastoralnya secara luas, tanpa mempedulikan pengorbanan apa pun. Sebagai contoh, ia sering bepergian dengan menunggang kuda untuk merawat orang sakit, meskipun harus menempuh jarak yang jauh, menghadapi bahaya di sepanjang perjalanan, serta cuaca yang tidak bersahabat. Sang “uskup gaucho” ini telah menjelajahi seluruh pelosok Uruguay hingga tiga kali, membawa iman dan harapan bagi penduduknya. Selama peristiwa bersejarah Pengepungan Paysandú pada tahun 1864, Uskup Vera tinggal di Isla de la Caridad — yang terletak di seberang kota yang terkepung — demi merawat para pengungsi dan orang-orang yang terluka dari kedua belah pihak. Ia tetap berada di sana hingga pengepungan berakhir, mendampingi umatnya serta memohon demi nama Allah agar pihak-pihak yang bertikai — yang sejatinya bersaudara — dapat saling merangkul dalam kasih persaudaraan.

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini giliran kita untuk melanjutkan warisan yang ditinggalkan oleh para penabur Injil ini. Kita harus melakukannya dengan senantiasa mengingat sabda Allah: dengan keadilan, kejujuran, dan kesetiaan, seraya menyadari bahwa pesan yang kita wartakan bukan milik kita. Pesan itu adalah harta yang telah kita terima dari Tuhan, yang kita bawa dalam bejana tanah liat (bdk. 2Kor 4:7).

 

Tiga simbol yang mencirikan wilayah ini dapat membantu kita merefleksikan khazanah iman yang telah kita terima serta perutusan yang kini dipercayakan kepada kita. Simbol pertama adalah jembatan; yang kedua adalah kebun palem; dan yang ketiga adalah minuman mate.

 

Di kota Paysandú ini terdapat Jembatan Internasional General Artigas, yang membentang melintasi Sungai Uruguay dan menghubungkan dua negara tetangga. Tidaklah sulit untuk membayangkan manfaat yang dihadirkan oleh sebuah jembatan: keterbukaan, komunikasi, dan pertukaran. Itulah sebabnya menjadi pembangun jembatan menjadi sangat penting! Inilah panggilan yang ditujukan kepada kita semua: membangun jembatan, memperkuat ikatan, mempersatukan, berkomunikasi, dan berbagi sukacita iman — seperti yang dilakukan oleh Beato Jacinto Vera — "baik atau tidak baik waktunya" (2Tim 4:2).

 

Terlebih lagi, sebuah jembatan memerlukan fondasi yang kokoh agar mampu bertahan bahkan terhadap arus yang paling kuat sekalipun. Sebagaimana rumah yang dibangun di atas batu akan tetap tegak di tengah badai, sementara rumah yang dibangun di atas pasir berisiko runtuh (bdk. Mat 7:24-27), demikian pula sebuah jembatan membutuhkan fondasi yang tepat untuk menahan kekuatan angin dan air. Setiap kali kamu pergi ke tepi sungai dan melihat jembatan itu, ingatlah bahwa simbol ini mewakili kita dan mengingatkan kita akan pentingnya pembinaan Kristiani yang kokoh. Kita perlu dipersiapkan dengan baik untuk memberi pertanggungjawaban iman kita kepada siapa pun yang bertanya (bdk. 1Ptr 3:15) dan tidak membiarkan diri kita disesatkan oleh “berbagai ajaran asing” (Ibr 13:9). Hanya dengan cara inilah kita dapat menjadi sarana persatuan dan ikatan kasih.

 

Simbol kedua yang mencirikan dan memperindah tanah ini adalah kebun palem. Kitab Mazmur menyatakan bahwa “orang benar akan bertunas seperti pohon kurma” (Mzm 92:12). Pohon ini mampu bertahan terhadap angin kencang, memiliki akar yang dalam, tumbuh menjulang lurus ke langit demi mengejar cahaya, serta menghasilkan buah yatay yang manis. Ini merupakan gambaran yang indah mengenai asal-usul kita dan tujuan akhir panggilan hidup kita: berakar di dalam Kristus — Sang Alfa dan Omega, Awal dan Akhir dari kehidupan kita — sehingga dengan tetap bersatu dengan Dia, kita dapat menghasilkan buah yang baik (bdk. Yoh 15:5).

 

Pada saat yang sama, kita melihat bahwa pohon palem di wilayah ini tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh berkelompok; jumlahnya banyak, namun tidak ada yang berdiri sendirian ataupun berjauhan. Demikian pula, Gereja merupakan komunitas saudara-saudari yang menanamkan akar dan menimba dari sumber yang sama: sabda Allah, sakramen-sakramen, doa, dan karya amal kasih. Bersama-sama, umat beriman mengarahkan pandangan mereka untuk memuji Kristus — sang surya pagi dari tempat yang tinggi, yang cahayanya menuntun langkah umat manusia ke jalan damai sejahtera (bdk. Luk 1:78-79).

 

Akhirnya, mari kita renungkan sebuah simbol yang dapat ditemukan di setiap rumah di negeri ini, di setiap tempat belajar dan bekerja, serta dalam setiap pertemuan antarsahabat. Yang saya maksud adalah mate, minuman yang sangat khas dari Amerika Selatan, yang makna mendalamnya tentu lebih baik kamu yang jelaskan ketimbang saya. Pasti banyak di antaramu yang telah menikmati mate dalam perjalanan menuju perayaan hari ini, dan akan menikmatinya lagi dalam perjalanan pulang nanti. Mate bahkan telah sampai ke Roma!

 

Mate merupakan lambang keakraban, persahabatan, dan perjumpaan. Ia mengajarkan kita untuk berbagi dan bersama-sama, serta mempererat ikatan yang mempersatukan kita sebagai saudara. Mate menjadi tanda penerimaan, pemaduan, dan nilai-nilai yang dianut bersama. "Minum mate" adalah sebuah ritual yang kaya akan simbolisme; di dalamnya, dialog terjalin tanpa perlu kata-kata, dan setiap rinciannya memiliki makna tersendiri. Saya juga teringat pada saat-saat seseorang menikmati mate seorang diri, dalam keheningan dan doa. Dalam momen-momen kesendirian tersebut, betapa sering kamu menyerahkan segala kekhawatiran, kebutuhan, serta hasrat dan kerinduan terdalammu kepada Allah!

 

Saudara-saudari terkasih, kita perlu merefleksikan simbol-simbol yang kita miliki bersama ini — simbol yang memberi kita jati diri dan rasa memiliki, yang menuturkan kisah tentang asal-usul kita, sekaligus mengarahkan pandangan kita ke masa depan. Iman pun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Uruguay sejak masa-masa awal, dan iman ini harus diteruskan kepada generasi mendatang dengan keberanian yang kreatif.

 

Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita akan pentingnya bersikap setia terhadap karunia-karunia yang telah kita terima: “Siapa yang setia dalam hal kecil, setia juga dalam hal besar” (Luk 16:10). Banyak orang, seperti Uskup Jacinto Vera, menghayati kata-kata ini. Dengan setia menjalankan panggilan yang telah mereka terima, mereka menaburkan benih Injil di dalam hati rakyat Uruguay. Benih-benih itu tetap hidup di tengah komunitas, namun penting untuk terus menyediakan kondisi yang diperlukan agar benih tersebut dapat tumbuh dan mencapai potensi sepenuhnya. Hal ini mencakup upaya berkelanjutan untuk mendidik anak-anak dan kaum muda dalam iman, mendampingi keluarga-keluarga, mendukung para lansia, serta melaksanakan karya amal kasih.

 

Saudara-saudari terkasih, saya mendorongmu untuk meneruskan perutusan pewartaan Injil dengan penuh semangat. Jadilah jembatan, agar banyak orang dapat berjumpa Yesus. Jadilah komunitas persaudaraan yang berkumpul bersama dan saling berbagi kehidupan, rencana, impian, serta harapan — terutama dengan orang-orang yang paling membutuhkan. Jadilah komunitas doa yang senantiasa menjalin dialog dengan Tuhan, layaknya seorang sahabat berbicara kepada sahabatnya (bdk. Yoh 15:15). Kristus mengandalkan kamu semua! Kristus mengandalkanmu!

 

Semoga Bunda surgawi kita, Bunda dari Tiga Puluh Tiga, melindungimu dalam perjalanan hidupmu dan senantiasa menuntunmu untuk berjumpa Yesus, Putranya.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 8 November 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.